Sabtu, 06 Juli 2013

Ikebana

Bunga sebagai bagian dari tumbuhan telah digunakan sejak zaman dahulu untuk berbagai ritual, baik sebagai persembahan kepada dewa ataupun sesajian untuk arwah para leluhur. Namun, dari sekian banyak ritual yang menggunakan bunga, mungkin hanya jepanglah yang dapat mempertahankan dan mengubahnya menjadi sebuah kebudayaan bernilai seni tinggi, yang dewasa ini dikenal dengan sebutan ikebana.    
Pengertian Ikebana
Kata ikebana merupakan gabungan dari kata ‘ike’ yang berari ‘hidup’ atau ‘tumbuh’ dan kata ‘hana/ bana’ yang berarti ‘bunga’. Jadi, secara etimologi ikebana berarti ‘bunga hidup’. Secara populer, ikebana diterjemahkan sebagai ‘seni merangkai bunga’.  

Rangkaian bunga ikebana tidak hanya disusun oleh bunga saja. Daun, buah, rumput dan ranting juga menjadi unsur penting dalam ikebana. Bahkan plastik, kaca dan logam juga dipergunakan dalam ikebana kontemporer. Semua unsur-unsur tersebut dirangkai sedemikian rupa dengan memperhatikan cara merangkai, ukuran, tekstur, volume, warna, jambangan, tempat dan waktu merangkai bunga tersebut sehingga dapat dihasilkan rangkaian bunga yang indah dan bernilai seni tinggi. 
Ikebana Tradisional
Pada awalnya ikebana adalah rangkain bunga yang dipersembahkan kepada Budha dan roh leluhur. Saat itu, rangkaian ikebana masih sangat sederhana karena hanya terdiri dari 3 tangkai bunga saja yang ditancapkan sedemikian rupa secara simetris. Tangkai utama yang paling panjang di tengah-tengah, sedangkan 2 tangkai lainnya yang lebih pendek di kiri-kanannya. Pada awal abad 17, rangkaian bunga untuk persembahan tersebut berkembang menjadi gaya rikka (bunga berdiri) yang diciptakan oleh seorang biksu Budha dari Sekolah Ikenobo. Tangkai utama pada gaya ini melambangkan surga atau kebenaran, sedangkan 2 tangkai lainnya melambangkan alam (kehidupan). 

Tak lama setelah gaya rikka berkembang dan semakin komplek, muncul gaya lain yang sangat sederhana, yaitu nageire yang artinya melemparkan atau membuang. Nageire ini merupakan rangkaian bunga bergaya bebas. Dalam nageire ini rangkaian ikebana-nya terdiri atas 1 atau  2 tangkai saja yang diletakkan secara apik pada sebuah jambangan kecil sebagai hiasan pada saat chanoyu (upacara minum teh). Rangkaian bunga untuk minum teh ini juga dikenal dengan istilah chabana
Biksu dan golongan bangsawan adalah segelintir orang yang pada awalnya mempraktikan ikebana, tetapi pada abad 18 secara luas juga dipraktikan oleh golongan samurai dan para pedagang. Hal ini tidak dapat lepas dari stabilitas keamanan dan perkembangan perekonomian Jepang yang semakin baik. Kekomplekan dan kekakuan gaya rikka mendorong lahirnya gaya lain yaitu gaya shoka atau seika yang berarti ’bunga hidup’.  Gaya shoka/ seika ini dengan cepat tersebar di tengah masyarakat yang menyebabkan terdesaknya gaya rikka.  

Pada dasarnya gaya shoka/ seika ini merupakan gabungan dari gaya rikka yang melambangkan alam dan gaya nageire yang melambangkan kesederhanaan. Gaya shoka/ seika terdiri atas 3 tangkai yang dibentuk menjadi segitiga yang asimetris. Ke-3 tangkai yang dipergunakan dalam gaya shoka/ seika ini memiliki julukan tersendiri, yaitu ten (surga), chi (bumi) dan jin (manusia). Gaya shoka/ seika ini menjadi sangat populer pada awal abad 19 dan menjadi dasar dalam pengajaran ikebana modern. 
Ikebana Modern
Setelah Restorasi Meiji tahun 1868, semua kesenian yang berkembang di Jepang mangalami stagnasi. Kebudayaan barat begitu memukau masyarakat Jepang sehingga kesenian dan kebudayaan tradisional Jepang sedikit terlupakan. Namun, hal ini tidak berlansung lama karena muncul sebuah gaya baru, yaitu gaya moribana (tumpukan bunga). Kemunculan gaya moribana yang dikembangkan oleh Ohara Unshin membangkitkan kembali minat bangsa Jepang pada ikebana. Gaya moribana ini menekankan pada warna dan pertumbuhan tanaman. Gaya ini diciptakan untuk merespon bunga-bunga baru yang diperkenalkan orang barat yang datang ke Jepang.           
        
Selain Ohara, muncul juga peletak dasar ikebana lain yaitu Teshigahara Sofu, yang mendirikan Sekolah Shogetsu. Di Shogetsu yang paling populer adalah kebebasan dalam pemilihan bahan. Bahan-bahan yang tidak digunakan pada ikebana tradisional mulai digunakan, seperti plastik, plester, baja dan lain-lain. Penggunaan bahan-bahan ini menciptakan karya-karya avant-garde yang abstrak dan surealis. 

Ikebana modern didominasi oleh tiga sekolah ikebana yaitu Sekolah Ikenobo yang mengusung gaya rikka dan shoka/ seika, Sekolah Ohara yang mengusung gaya moribana dan Sekolah Shogetsu yang mengusung konsep abstrak dan surealis. Ketiga sekolah ikebana ini mengklaim memiliki jutaan pengikut. Selain ketiga sekolah tersebut di Jepang sendiri masih ada ratusan sekolah lain dengan ribuan pengikut.  
Orang Jepang yang bukan pengikut salah satu sekolah ikebana mempraktekan ikebana dengan bahan-bahan tertentu dan pada waktu tertentu pula, misalnya : 
1. Oshogatsu
Orang Jepang memasang kadomatsu (rankaian bunga dari pohon cemara dan aprikot dan juga dilengkapi pohon bambu) di pintu rumahnya pada saat Oshogatsu (Tahun Baru). Cemara melambangkan keabadian, aprikot melambangan kemuliaan dan bambu melambangkan kedinamisan.

2. 3 Maret
Tanggal 3 Maret merupakan hari diadakannya Hina Matsuri (Festival Boneka/ Festival Anak Perempuan). Pada hari ini dipajang hina ningyo dan rangkaian ikebana dari ranting pohon persik yang sedang mekar.  
3. 5 Mei
Tanggal 5 mei merupakan Kodomo no Hi (Hari Anak-anak). Pada hari ini dipajang rangkaian ikebana dari pohon bunga iris.
4. 7 Juli           
Tanggal 7 juli merupakan hari dilaksanakannya Festival Tanabata. Pada hari ini dipajang bambu, lalu pada bambu tersebut diikatkan kertas bertuliskan harapan. 

Jumat, 05 Juli 2013

Perayaan Hanami

Perayaan Hanami merupakan salah satu perayaan tahunan di negara Jepang yang ada pada musim semi, tepatnya pada bulan April.
Perayaan Hanami ini adalah perayaan untuk melihat bunga sakura, yang merupakan Bunga khas dari negara Matahari Terbit. Budaya merayakan mekarnya bunga ini, tidak adda di negara Indonesia.
Hanami, merupakan perayaan yan gdiselenggarakan secara sederhana akan tetapi dengan kesederhanaanya itu, perayaan hanami justru menjadi kesenangan terbesar bagi orang-orang Jepang dalam setahun kehidupan mereka.
Budaya seperti ini yang sudah mulai luntur pada diri sebagian masyarakat Indonesia. Dewasa ini, masyarakat Indonesia, pada umunya masyarakat ekonomi kelas atas, lebih suka mencari kesenangan dengan cara menghambur-hamburkan uang, seolah kemewahan merupakan simbol mutlak dari kebahagiaan. Padahal dari kesederhanaan seperti yang yang terdapat pada perayaan hanami di Jepang itu juga bisa tercipta kebahagiaan tersendiri, karena pada saat perayaan hanami, orang-orang Jepang tidak hanya sekedar menikmati keindahan bunga sakura, akan tetapi orang-orang Jepang juga mempunyai waktu tersendiri untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tersayang.

Perayaan Hanami yang dalam sejarah berarti melihat-lihat bunga sakura, dalam perkembangannya perayaan ini lebih bersifat sebagai ajang rekreasi.
Bisa kita bayangkan kebahagiaan orang-orang Jepang pada saat mereka merasakan kehangatan berkumpul bersama keluarga diantara rimbun pepohonan sakura yang sedang mekar. Sebuah rekreasi keluarga dalam kehangatan budaya tradisional yang tidak goyah oleh hadirnya gaya hidup modern. Kenyataan ini sungguh berbeda dengan keadaan masyarakat Indonesia. Budaya Indonesia yang ketimuran justru mulai terkikis oleh hadirnya budaya-budaya barat yang menyebabkan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat kota, terkesan menjadi masyarakat yang individual. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga jarang mempunyai waktu untuk berkumpul bersama keluarga.
Perayaan Hanami ini tidak bisa dianggap sebagai perayaan yang biasa, karena meskipun sekedar menyaksikan mekarnya bunga sakura, dengan adanya perayaan hanami menunjukkan kecintaan masyarakat Jepang terhadap bunga sakura.
Perayaan semacam ini mungkin tidak bisa kita jumpai di negara-negara lain, yang menakjubkan adalah masyarakat Jepang tetap melestarikan Budaya hanami, meskipun di era modern ini banyak pilihan tempat untuk bersantai bersama keluarga, misalnya dengan pergi ke tempat karaoke.
Masyarakat Jepang tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama keluarga di bawah pohon sakura sambil menikmati keindahan bunga sakura.
Keteguhan masyarakat Jepang dalam melestarikan budaya tradisional mereka, patut untuk diteladani. Tidak hanya hanami, kebiasaan berkirim nengajo (kartu pos) pada saat tahun baru dan menjelang musim panas juga tetap berlangsung ditengah masyarakat Jepang. Sekalipun kecanggihan teknologi telah memungkinkan mereka untuk meninggalkan kartu pos, tapi masyarakat Jepang masih melaksanakan budaya tradisional tersebut.
Hal-hal tersebut itulah yang sering terlupakan oleh sebagian masyarakat lain, katika mereka disibukkan dengan rutinitas pekerjaan, mereka tidak lagi mempunya waktu khusus untuk berkumpul bersama keluarga.
Begitu juga ketika kecanggihan teknologi telah merambah masyarakat modern, hanya sebagian kecil dari mereka yang tetap menggunakan jasa kantor pos untuk berkirim kartu pos ataupun surat.
Harusnya kita bisa bercermin pada orang-orang Jepang bagaimana meraka tetap mampu melestarikan budaya tradisional tersebut. Karena dari hal-hal sepele seperti itulah akan tercipta kesempurnaan, akan tetapi kesempurnaan bukanlah hal yang sepele.
Berbicara tentang hanami tentu tidak akan terlepas dari bunga sakura. Konon kabarnya bunga sakura hanya mekar selama tujuh sampai sepuluh hari.
Secara umum bunga sakura bermekaran dimulai dari daerah selatan yang berudara lebih hangat, yaitu di pulau Okinawa, kemudian merambat ke utara, dan berakhir di Hokkaido. Pada sebuah web di internet pernah dijelaskan bahwa hikmah besar mengenai kehidupan ini tersimpan pada keberadaan bunga sakura. Di balik ukurannya yang mungil, bunga yang memiliki berbagai mcam variasi warna, yang pada setiap tangkainnya berkembang lima hingga ratusan bunga ini telah memberi contoh pada kita bahwa hal-hal kecil jika dirangkai dalam sebuah untaian besar dapat memberi sebuah keindahan, dan hal-hal kecil berarti besar bila dipadukan. Bisa jadi karena beberapa keistimewaan yang terdapat pada bunga sakura itulah, mengapa orang-orang Jepang begitu antusias merayakan hanami untuk menyaksikan mekarnya bunga sakura yang hanya berlangsung selama tujuh sampai sepuluh hari.
Semoga saja kelak dalam perjalanan hidup kita bisa turut menjadi kuncup kecil yang bersatu bersama dengan yang lainnya untuk menciptakan indahnya kebersamaan, seindah kebersamaan orang-orang Jepang ketika merayakan hanami dibawah pohon sakura.